skip to main |
skip to sidebar
Seorang
anak kelas 6 SD sedang menata kartu-kartu koleksinya yang bergambar
karakter-karakter sebuah game. Sambil merapikan kartu-kartu itu ia
mengomel, “Kartu ini sudah tidak model lagi. Sayang banget tidak bisa
dipake lagi. Padahal kalau dihitung-hitung dulu uang yang dikeluarkan
banyak juga. Mana sekarang sudah keluar yang model baru lagi. Kesal!”
Pernahkah kita mengalami hal yang sama? Mungkin bukan kartu, tapi barang
yang lain, yang dulu sepertinya keren banget sampai rasanya mending
mati dari pada malu karena tidak punya barang itu. Tapi, setelah dilihat
lagi sekarang, merasa bodoh banget, barang seperti itu saja sampai
dibela-belain, mohon, maksa bahkan 'mengancam' orang tua supaya
dibeliin.
Kalau melihat siklus hidup kita, dari kecil sampai
sekarang, wajah dunia selalu berubah. Sebentar musimnya barang ini,
sebentar lagi musimnya gaya itu. Tidak pernah ada yang bertahan lama.
Yang sekarang lagi 'ngetrend', dalam hitungan minggu bisa jadi
ketinggalan mode. Inilah dunia. Sebenarnya sama, tapi dimodifikasi
sedikit, sehingga banyak orang yang terpikat dan diperbudak sehingga
melampiaskan hawa nafsunya. Misalnya: sudah punya banyak baju, tapi
masih ingin selalu beli yang baru, alasannya karena yang lama sudah
ketinggalan zaman modelnya; sudah punya blackberry, tapi masih ingin
ganti yang lebih baru, alasannya karena yang lama fiturnya sudah tidak
update, dan lain sebagainya.
Memang kalau ikutin mode itu bisa
boros; tapi asal uangnya halal, tidak mencuri, korupsi, atau sejenisnya,
intinya asal tidak dosa, sah-sah saja dong? Sekilas kelihatannya Tuhan
dan dunia tidak ada hubungannya. Tapi benarkah demikian?
Setelah manusia jatuh (Kej. 3), Kain (anak Adam dan Hawa) membunuh
adiknya (Habel) karena iri hati dan kemudian meninggalkan Allah (Kej.
4). Setelah itu Kain membangun sebuah kota untuk perlindungan dan tempat
tinggalnya. Dalam kota inilah dia hidup dalam ‘kebudayaan tanpa Allah’:
kota untuk tempat tinggal, beternak untuk hidup, musik untuk hiburan,
dan senjata untuk pertahanan. Berbeda dengan ketika di dalam taman Eden;
Allah adalah segala sesuatu bagi manusia: perlindungan, perawatan,
hiburan dan pertahanan.
‘kebudayaan tanpa Allah’ itulah dunia.
Inilah sistem yang dibentuk iblis untuk menggantikan posisi Allah dalam
manusia. Karena itulah 1 Yohanes 2:15-16 mengatakan, “Janganlah kamu
mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi
dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua
yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta
keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”
Sedikit saja mengasihi dunia artinya kita memberi kesempatan pada iblis
untuk mengalahkan dan memperbudak kita.
Kalau begitu, artinya
kita tidak boleh beli apa-apa dan punya apa-apa yang dari dunia dong?
Bukan demikian juga, karena kita hidup di dunia, kita masih memerlukan
barang-barang dunia. Allah tahu bahwa kita memerlukan beberapa hal untuk
kelangsungan hidup kita. Tapi jika hal-hal itu membuat kita ‘kecanduan’
dan melebihi kebutuhan kita, maka itu berarti kita sudah tercemar oleh
dunia. Lalu bagaimana kita membedakan yang mana kebutuhan kita dan yang
mana hanya untuk memuaskan keinginan kita? Yohanes 17:17 mengatakan,
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” dan
Mazmur 119:105 juga mengatakan “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan
terang bagi jalanku.” Firman Tuhanlah yang dapat menguduskan dan
menerangi kita sehingga dunia tidak bisa mencemari kita, “supaya kamu
tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak
bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat
ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di
dunia” (Flp. 2:15).
Sudahkah kamu membaca firman Tuhan hari
ini? Mari kita luangkan sedikit waktu kita setiap hari untuk membaca
Firman-Nya. Kita bisa mulai dengan mengatur jadwal untuk membaca Alkitab
dan membuat target, misalnya: “Dalam setahun aku mau menyelesaikan
pembacaan Perjanjian Baru.” Dengan demikian firman Tuhan akan
menguduskan dan menerangi kita setiap hari, sehingga kita tidak dicemari
dunia.